smantiga86

Lord of SMANTA Alumni

Trailers; Skenario Langit

Posted by smantiga86 pada September 1, 2009

anaksholat
Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk
menggoyang-goyangkan kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,” kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita. Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang.
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata,
“Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.” Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut. Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita). Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta. Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita.

Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita. “Halo, selamat siang, Pak. Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,” kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada kita.
Orang yang menemukan handphone kita berkata, “Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya.”

Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui “orang baik” tersebut. Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
“Bapak / Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. “

SMS pun dikirim dan tidak ada balasan. Kita sudah putus asa.

Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita. Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut.

Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita. Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?

Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).

Moral of the story
Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas? Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya.

Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita turun dari kereta. Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini. Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, Siapakah yang paling baik? Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita, bukan? Dia adalah orang pada skenario pertama.
Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara keempat orang di atas.
Manakah orang yang paling tidak baik? Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita
tersebut selama itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu? Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
skenario.
Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.
Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali.
Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu. Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita. Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone yang kita miliki.

Dan…akhirnya !…
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri? Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa…
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.

Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat
bersyukur? Sebaiknya tidak. Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada. Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita.

Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh. Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan. Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

(diambil dari email AJP)

Posted in "KANTIN BICEK" | 16 Comments »

AMERICAN DREAM

Posted by smantiga86 pada Februari 19, 2009

…. Relax,…lupakan krisis !

anakanaknelayan1Pernah dengar slogan American Dream? Ini cerita kekonyolan orang Amerika soal mimpi-mimpinya ketika datang ke Medan.

Seorang bisnisman Amerika sedang berdiri di dermaga kecil Belawan, Sumut ketika sebuah kapal boat nelayan kecil yang hanya berisi seorang nelayan berlabuh. Di dalam kapal kecil itu ada beberapa ikan Tongkol besar. Orang Amerika itu memuji kualitas ikan yang berhasil ditangkap nelayan Melayu itu.

“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menangkapnya? ” kata si
Amerika.

“Cuma sekejab lah,” jawab si nelayan.

“Kenapa anda tidak menunggu lebih lama dan menangkap lebih banyak
ikan?” tanya si Amerika.
“Ini pun udah cukup kali untuk memenuhi kebutuhan keluarga ku saat
ini,” kata si nelayan lagi.

“Tapi..” kata si Amerika bertanya lagi, “Lalu apa yang anda
kerjakan dengan waktu sisanya?”

Nelayan itu menjawab, “Tidurku lambat, menangkap sedikit ikan, bermain-main dengan anak-anak, bercengkrama dengan isteriku. Jalan-jalan keliling kampung, ngaji, cakap-cakap di warung kopi sambil minum kopi pahit.”

Si Amerika mencela,”Saya ini MBA dari Harvard, dan bisa membantu Anda. Anda seharusnya menghabiskan waktu lebih lama lagi dalam menangkap ikan.  Dan dari pendapatan yang dihasilkannya anda belikan boat yang lebih besar, dan dari pendapatan boat yang lebih besar tersebut anda bisa membeli beberapa boat lagi.
Sehingga akhirnya anda akan memiliki armada kapal nelayan. Bahkan daripada menjual tangkapanmu kepada (pedagang) pengumpul, lebih baik anda menjualnya langsung pada konsumen,dan akhirnya anda pun bisa membuka pabrik sendiri.  Anda akan menguasai dan mengontrol produk, pemrosesan dan distribusinya. Selanjutnya
anda perlu meninggalkan kampung nelayan kecil ini dan pindah ke Jakarta, lalu kemudian ke Singapura, kemudian ke LA, dan akhirnya ke New York dimana anda dapat melesat,mengembangkan bisnis mu.

Nelayan Melayu itu kemudian bertanya, ˜Tapi tuan, berapa lama semua itu dapat dicapai?”

Si Amerika menjawab, “Sekitar 15-20 tahun.”

“Lalu setelah itu ngapain tuan?” tanya si nelayan.

Si Amerika tertawa terpingkal-pingkal dan berkata,”Disitulah bagian terpentingnya. Jika waktunya sudah tepat anda bisa mendaftarkan dan mengumumkannya di bursa saham (IPO/Initial Public Offering) dan menjual saham
perusahaan anda ke publik sehingga anda menjadi sangat kaya, anda akan menghasilkan milyaran. Miyaran!”

“Lalu ngapain?” tanya si nelayan lagi.

Si pebisnis Amerika itu berkata perlahan, “Kemudian anda bisa pensiun. Pindah ke desa pantai kecil dimana anda bisa tidur larut malam, menangkap sedikit ikan,bermain-main dengan anak-anakmu, bercengkrama dengan isterimu.
Setiap malam jalan-jalan keliling desa, ngobrol-ngobrol di warung kopi sambil minum kopi pahit,” kata si Amerika itu.

“Oooooo, terimakasih saya sudah dapat itu semua tanpa harus menunggu 15-20 tahun,” kata si nelayan.

(Dikutip dari email Bpk. AJP)

Posted in "KANTIN BICEK" | 1 Comment »

Syair Koruptor Mati di Dor!

Posted by ridwanaziz pada November 7, 2008

— Kelapa Gading, 7/10/2008
(Untuk Generasi Pengungkit)–

Koruptor harus digusur pake traktor
Coba lari tekepor-kepor
Ditangkep KPK cuma pake kolor
Dipenjarapun, kerjanya molor

Koruptor tidak mesti berbadan bongsor
Bisa juga kurus dan tidak menor
Dari mahasiswa ataupun rektor
Peserta seminar hingga moderator

Koruptor bisa menteri bisa legislator
Ataupun intel hingga provokator
Paling pandai bertingkah lagaknya aktor
Naik mobil bisa juga motor

Koruptor itu manipulator
Paling suka disebut donor
Sumbang tabung gas beserta kompor
Bila lebaran, bagi-bagi opor

Koruptor dan keluarga bisa jadi sangat tersohor
Punya nama baik dan gampang tipu bank kreditor
Kalau pulang kampung mesti disambut tanjidor
Diiring tarian dan deretan penjor

Koruptor tidak pernah mau tekor
Selalu punya siasat seperti negosiator
Ajak banyak orang jadi kolaborator
Perlu tidak perlu dia sebarkan teror

Koruptor modalnya kalkulator
Berlagak ibarat mandor
Tekan-tekan tombol persen tentukan biaya setor
Bila kita ingin jadi kontraktor

Koruptor pintar seperti doktor
Nalarnya cepat seperti meteor
Nafkahi keluarga dengan harta kotor
Dari kepala hingga ke ekor

Open the door, Open the door
Suara pintu digedor-gedor
Seperti banteng menyeruduk sang matador
Ribuan koruptor kena lapor

Koruptor demam dan kena tremor
Duduk lemas kaki berselonjor
Tertunduk di depan meja hakim tipikor
Malu dengar percakapan yang tersadap dan termonitor

Koruptor pake jimat anti pelor
Percayalah suatu saat pasti teledor
Mesti tertangkap di spa ataupun elevator
Tinggal tunggu di dor eksekutor

Posted in "KANTIN BICEK" | 8 Comments »

LEBAR, LEBUR, LABUR, LUBER di POS RONDA – Tulisan Hamdi Buldan

Posted by ridwanaziz pada Oktober 14, 2008

LEBAR, LEBUR, LABUR, LUBER di POS RONDA

Gema Takbir,Tahlil,Tahmid membahana seantero negeri dari mesjid-mesjid besar dan megah di kota-kota sampai pelosok-pelosok desa dari surau ke surau di puncak-puncak gunung dan lembah-lembah. Pawai takbiran diiringi gendang beduk keliling kota dilepas para petinggi Negara. Anak-anak desa keliling kampung pawai obor dengan meriahnya. Suara-suara bocah polos tanpa pengeras suara melantunkan Takbir, Tahlil, Tahmid dengan hikmatnya di kampungku. Inilah hari kemenangan kata banyak orang menyambut datangnya Id-Fitri.
Apa yang menang dan apa pula yang kalah ?, atau siapa yang menang dan siapa pula yang telah kalah?. Apakah kemanusiaan yang menang dan ke’aku’an yang telah kalah?, atau sebaliknya ke’aku’an manusia yang selalu menang dan berkuasa atas kalahlah sudah kemanusiaan ? Penulis terus bertanya sembari membaca, melihat dan ikut merasakan laju gerak kehidupan bangsa saat ini. Sebuah bangsa yang telah beratus-ratus tahun mengenal dan menjalankan Ramadhan tiap tahun, setiap tahun pula merayakan ‘kemenangan’ katanya, kalaulah betul demikian tentu setiap tahun kita dapat menyaksikan dan merasakan kehidupan bangsa yang semakin baik, semakin maju taraf hidup masyarakat mencapai kesejahteraan, keadilan, ketenteraman dan kearifan sebagai manusia. Akankah kita sedang bergerak ke arah lebih baik ataukah kita sedang bersama-sama berlomba membocorkan perahu bangsa dengan kampak ke’aku’an dan ‘menggelari’ diri peraih kemenangan, kemenangan palsu, kemenangan kosong tak bermakna, kemenangan semu, kemenangan kebohongan yang akan menyeret kita tenggelam bersama?
Kejayaan keangkuhan arogansi ke’aku’an dalam bangunan ekonomi kapilatistik yang penuh gairah ambisius, cerdas (cenderung culas) dan rakus akhirnya runtuh sendiri, kandas, bablas angine (pinjam istilah antangin), kita lihat kepanikan dunia menghadapi krisis financial global saat ini dan tidak bisa terhindarkan ikut pula menerpa kita yang memang sudah jatuh sakit menahun terbaring kapan mampu kembali bangkit berdiri? Ya…itulah ketika kita ikut dalam arah terbalik global karena tidak punya kemandirian, tidak dapat memaknai arti membangun kesejatian diri bangsa kembali kepada fitrah kemanusiaan.
Celakalah sudah kehidupan kalau akal sudah menjadi sifat utama, telah hidup dengan men-tuhan-kan akal, jadilah serba akal-akalan tanpa pegangan kebenaran sehingga muncullah mimbar-mimbar Balam di mana-mana, mimbar kebohongan, mimbar teori ruwet memuakkan menyesatkan, mimbar ilmiah kepalsuan, mimbar kepopuleran, mimbar kepentingan dan keserakahan kekuasaan berdalih pembangunan.
Ramadhan yang ditutup dengan gema Takbir, Tahlil, Tahmid tadi berlaku dan berlalu pula secara seremonial belaka. Salam-salaman, silaturrahmi, sembah sujud anak dengan orang tua, berziarah dll telah mewarnai aktifitas lebaran, katanya begitu! Apa makna itu semua sehingga ada istilah arus mudik arus balik segala yang begitu gegap gempita? Akankah itu semua juga telah menjadi seremonial belaka?
Penulis menerima sms dari teman seorang pencabut gigi dari Jakarta, tertulis; ’kepada umat muslim dimohon untuk mendo’akan “bang Toyib”agar lebaran bisa pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga’ huahaha…,sms ini penulis kirim ke banyak teman lain, khususnya buat teman penulis yang paling unik karena setiap pindah rumah selalu diikuti berdirinya pos ronda di depan rumah huahahha…huaha.
Kata temen penulis yang selalu diikuti pos ronda tadi ,menguraikan “makna lebaran untuk saat ini hanyalah menghapus segala sesuatu yang menjadi ganjalan antar individu dari rentang waktu lalu sampai saat ini termasuk di dalamnya kaitan hutang piutang, setelah itu dapat diulangi/dibuat kembali timbulnya ganjalan baru lagi huahahaha……”. Dasar temen satu ini sangat cerdas, lugas dan jujur untuk membahasakan dengan sindiran halusnya betapa kita saat ini lebih banyak terjebak dengan seremonial belaka tanpa memahami hal batiniah/ruhaniyah. Inilah gambaran kehidupan syarat warna tanpa makna. Beragama menanggalkan ruhani. Ada salah satu kaidah usul fiqh yang mengatakan,”Al ‘ibrah fil Islam bil jauhar laa bil madzhar”(dasar perjuangan dalam Islam adalah substansinya bukan simbol formalnya).
Hilangnya substansi maka yang ada hanya cangkangnya saja atau simbol-simbol belaka. Kehidupan kapitalistik yang rakus, culas, gairah ambisius berlebihan menuntut kepalsuan-kepalsuan relegius, di mana Tuhan yang sering disebut-sebut justru adalah “Tuhan materialisme”,”Tuhan kekuasaan”,dan bukan Tuhan ALLAH SWT yang sebenarnya. Agama tanpa ALLAH. Gambar buram peradaban kapitalis yang telah memberangus fondasi kesejarahan kemanusiaan yang paling fundamental sebagai tonggak kokoh membangun peradaban dapat kita saksikan akibatnya di mana-mana, di kota-kota besar bangunan-bangunan megah seakan menyundul langit berhimpitan dengan kemiskinan di bantaran sungai, tepi rel, dan bawah kolong jembatan, kerusakan ekosistem lingkungan yang semakin parah, kehilangan daya dukung alam bagi masyarakat pedesaan oleh perombakan fungsi hutan besar-besaran tanpa perhitungan telah memaksa mereka termarginalkan dalam kemiskinan yang semakin parah.
Penulis melamun di atas perahu wisata Putri Kembang Dadar mengarungi sungai Musi menyaksikan masyarakat tepian sungai yang secara visual memprihatinkan. Sungai inilah yang sejak abad ke 7 di masa Sriwijaya pernah ditulis oleh I-ts’hing seorang pendeta Budha yang berlayar dari Tiongkok ke India dan singgah di Sriwijaya (617M) selama 6 bulan. Sungai ini salah satu urat nadi ekonomi besar di perairan Nusantara, pada waktu itu disebut sungai Fo-shih. Begitu juga di masa Majapahit sampai pada masa kita saat ini. Arus komoditi hasil alam, hasil tambang, dan produk-produk industri saat ini diangkut dari dan ke perairan musi keluar masuk lalu lalang sebagai sungai besar yang menjadi muara pertemuan sungai-sungai penyangga dari daerah pedalaman Sumsel. Betapa besar peran dan fungsi sungai ini bagi nilai ekonomi dan kesejarahan yang telah dan terus berlangsung hingga saat ini, sangatlah ironis dengan pemandangan kehidupan masyarakat di tepiannya. Ada apa dengan ini semua ?.

Terpaksa kukenakan kaca mata gelap agar tak nampak oleh anak-anakku melihat mataku nanar kemerahan melihat ketimpangan ini,biarlah sementara mereka ceria menikmati jalan-jalan diatas perahu yang belum pernah dialaminya huahahahahah.Dengan suara perlahan penulis mengingat lagu yang sesekali kunyanyikan tanpa diiringi petikan gitar si Fadil(teman unik lainnya) yang petikan gitarnya terkadang mengalahkan si pengarang lagu he he he.
Jangan didik anak kita penakut.
Jangan ajar anak kita pengecut.
Tolong khabarkan tinjuku untuknya.
Demi kebenaran yang nyata.

Perahu melaju dengan tenang diiringi suara music dangdut perahu yang begitu kerasnya,lagu yang tadi penulis nyanyikan tentu tenggelam sudah.Penulis akhirnya minta diputarkan lagu “bang Toyib”,awak perahu menjawab,’bang Toyib masih di Bengkulu huahahahah…….(hanya temen penulis yang unik satunya lagi yang tahu huahaha).
Dari depan museum Sultan Mahmud Badaruddin dan benteng kuto besak sampai pulau kemarau ditepian sungai Musi juga terlihat beberapa masjid tua masih berdiri,tentunya memiliki nilai kesejarahan yang menarik dikaji begitu pula nilai-nilai kesejarahan yang pernah dibangun dimasa kesultanan Palembang,bahkan kita juga sudah tidak pernah tahu lagi sejarah bagaimana seorang Ariodillah/Ariodamar yang menjadi ‘gubernur’Majapahit di Palembang serta ceritera Raden Fatah (Raja Demak) anak turun Majapahit yang pernah dibesarkan dan dididik di Palembang.

Sampaikah kita pada nilai-nilai sejarah yang sangat berharga yang pernah dibangun oleh orang-orang terdahulu sebagai kekayaan budaya dan peradaban masa lalu? Bagaimana pula dengan Sriwijaya? Bukankah Sriwijaya pada masa itu hakikatnya adalah bagian penting dari keberadaan asia tenggara lama? Sejarah Sriwijaya tentu menyangkut hubungan internasional karna letaknya sebagai rute pelayaran yang berinteraksi dengan pelayaran dari jawa,India,Arab,Tiongkok.Dengan sendirinya tentu sejarah Sriwijaya berhubungan dengan sejarah Negara-negara lain yang menggunakan selat malaka sebagai jalur lalu lintas dunia,karna itu menjadi sangat menarik bagi sejarawan nasional dan dunia untuk menggali lebih lanjut gambaran peradaban masa lalu di Palembang yang punya andil besar mewarnai gerak peradaban nusantara dimasa lalu.Pertanyaan besar dari penulis,akan dibawa kemana konsep visit musi? Apa pula ikon yang akan ditampilkan sebagai daya tarik wisatawan? Tidaklah ada artinya pertanyaan seorang penulis gembel bagi para pengambil keputusan.
Perahu telah merapat ditepian sungai tanda usai sudah jalan-jalan diatas sungai besar Musi dengan iringan lagu dangdut.Trimks..pak,kata penulis kepada juru mudi perahu,rasanya sama saja dengan naik komedi putar di pasar malam atau taman ria sriwijaya tempat dimana penulis biasa markir 24 tahun yang lalu huahahaha……
Slamat hari raya id-fitri 1429H,smoga kita semua diberi kekuatan,sehat lahir batin,panjang umur usia yang bermanfaat.Marilah saling memaafkan dengan BERLEBARAN,BERLEBURAN segala kesalahan,BERLABURAN bersih hati kita dan BERLUBERAN dengan keberkahan….menggapai kehidupan bangsa yang mandiri,maju,sejahtera lahir batin,aman,adil makmur dalam Redho’ ALLAH SWT,Ya…ALLAH,berilah pemimpin kami pengetahuan dengan cahayaMu agar timbul suluh pencerahan keberanian menuju perubahan(jihad)peradaban yang sejalan dengan fitrah kemanusiaan,amin..amin..amin.
Kutulis duduk sendiri jaga pos ronda,yang lain keliling kampung huahahah..
Yogyakarta,waktu gak bawa jam he he he

Hamdi Buldan.
(penulis gembel di pos ronda)

Posted in "KANTIN BICEK" | 3 Comments »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.