smantiga86

Lord of SMANTA Alumni

Tak Setenar “Ayat-Ayat Cinta (AAC)” !

Posted by smantiga86 pada Maret 31, 2008

novelayat2cinta.jpg  ayatayatcinta-dl.jpg  ayat-ayat-cinta.jpg

“Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (Az Zuhruf ayat 67).
….. satu ayat cinta dari sekian juta ayat-ayat cinta yang diwahyukan Allah kepada manusia…..

Akhirnya, satu keunikan “Ayat-Ayat Cinta (AAC)” adalah begitu fenomenal dan mampu begitu hidup di berbagai unsur masyarakat. Awalnya, AAC adalah novel sastra  yang berhasil (best seller) meramu dakwah, tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa, dimana dengan segala suka dukanya diangkat juga ke layar lebar.   [Acung Jempol..], Di peredarannya,   berbagai kalangan masyarakat universal,  secara serentak diberikan “laksana hidayah” untuk membaca novel AAC sekaligus menonton dan membicarakan film dari novel Habiburarrahman El Shirazy tersebut. . Menariknya lagi, AAC mampu menembus lintas sektoral usia, golongan dan berbagai komunitas rakyat, Bahkan beberapa tokoh seperti Hidayat Nur Wahid, Bj Habibie, dan AM Fatwa, Kalla dan terakhir Presiden RI SBY, menggelar nonton bareng Ayat-Ayat Cinta, sampai akhirnya Presiden RI ini pun “miris”, menitikkan air mata terbawa perasaan dan …Indonesia pun Menangis !!.   Kejadian di Palembang,  akibatbesempelan gino”  orang berdesakan mau nonton AAC, akhirnya kaca tebal Studio Cineplex 21 pun “jebol”, hingga terpaksa ada yg harus dibawah ke RS.  Dan saat itu… Palembang pun Menangis !!..

Terlepas dari adanya “kesan kelemahan” & “kesan berlebihan” di film maupun di novel AAC maka pada “klik” kali ini, dengan tidak mengenyampingkan tokoh2 utama AAC yang sudah melesat (menculat) terkenal, seperti : Habiburrahman El Shirazy (kang Abik sang Maestro Penulis), Hanung Bramantyo (sang Sutradara), Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Puteri dan pemain lainnya, kesuksesan AAC sebetulnya tidak terlepas dari “kerja spektakuler” dari (antara lain) beberapa orang ini.

Anif Sirsaeba Alafsana
Lelaki yang disapa sebagai kang Anif inilah yang begitu mengkuratori novel AAC, dari mulai “memperindah” novel hingga berjuang bersama Republika menerbitkan novel tersebut. Anif pun bertindak sebagai “aranjer” dan negoisiator ketika muncul penawaran dari beberapa Production House (PH) untuk mengangkat novel AAC ke layar lebar. Anif pun sadar dan maklum sebagai suatu konsekuensi novel yang diangkat ke layar lebar, tidak akan memuaskan, persis sama, ataupun sedikit membuat kecewa para pembaca novel yang juga menonton filmnya. Kang Abik dan Anif pun membebaskan Hanung dan tim-nya berkreasi, sejauh itu masih dapat ditolerir. Dan luar-biasa, film AAC tersebut laris dan tentunya ini tidak terlepas “faktor” novel yang dilabeli megabest seller, karya Kang Abik tersebut.

Ginatri S.Noer & Salman Aristo
Pasutri ini memang boleh diacungkan jempol sebagai pengemban tugas penulis skenario (written by). Proses adaptasi dari sebuah novel menjadi penulisan skenario, jika tidak benar akan membuat sebuah novel indah menjadi “penyet” , membosankan dan tidak manusiawi ataupun tidak logis. Namun berkat kerja keras pasutri ini, kesan yang didapat setelah menonton film ini adalah “good-work”. Semua tervisualisasikan secara lebih logis dan manusiawi serta “dakwah” yang ingin disampaikan : “dapat”. Di novel, Fahri digambarkan sosok sempurna, akan tetapi di Film, digambarkan dengan lebih manusiawi. Beberapa titian adaptasi dari novel terjadi sedikit “penghilangan”, namun tidak membuat film AAC sendiri kehilangan “greget” nya. Kesuksesan di novel AAC, membuat beban yang begitu berat bagi pasutri ini meng-adaptasi-nya menjadi “skenario” yang bermutu. Dan terlepas dari hasilnya, Aris dan Gina telah cukup berhasil membuat orang “berbondong-bondong” nonton AAC.

Allan Sebastian & Retno Ratih Damayanti
Dengan adanya kendala biaya dan perizinan, maka pembuatan film AAC yang semula maunya di Kairo akhirnya “dipindahkan” ke tempat lain. Dan ini menjadi tugas utama Allan Sebastian, sebagai Art Director AAC, sempat melakukan riset ke Kairo, Dengan pengamatan dan “ instingnya” Allan memilih daerah Lawang Sewu dan Kota Lama, Semarang untuk “disulap” menjadi mini Kairo di AAC.  Menurut Allan, arsitektur bangunan di Mesir “agak miripan” dengan bangunan-bangunan tua di Semarang., dengan sedikit polesan dan tambahan seperti pintu-pintu dan jendela, maka jadi juga miniatur “Kairo”.
Allan membutuhkan tidak kurang 8 truk untuk mensupplai properti peralatan dan asesorisnya serta mendatangkan unta dan ratusan “orang Arab (wong kuto)”. Untuk ruang persidangan, Allan menilai bangunan pengadilan di Mesir memiliki arsitektur dan testur yang mirip dengan Gereja Imanuel Jakarta, dan perlu ditambah lagi ruang penjara buat “Fahri”.
Khusus untuk adegan di pinggir sungai Nil, gurun pasir dan eksterior masjid, syuting diambil di Jodphur, India dan Sungai i Gangga pengganti Sungai Nil di Mesir. Secara umum, baik eksterior dan interior AAC, Allan cukup berhasil membawa film ini ke “aroma & nuansa “ di Novel-nya, meskipun jika jeli, masih ada sedikit yang belum mengena.

Penata kostum, Retno Ratih Damayanti, lumayan harus mensinkronisasi-kan antara kostum artis dengan ekspresinya artis, di novel. Pada pakaian cadar , pertimbangan artistik dan bebas ekpresi harus bisa ditangkap kamera dengan baik. Warna abaya dan cadar tidak monoton di dominasi hitam khas Mesir, tapi ada juga warna lain. Retno sempat juga berkonsultasi dengan kang Abik soal pemilihan kostum artis di film AAC ini. Satu hal yang desain Retno yang paling “Okay”, adalah desain baju pengantin Aisha, meskipun beda dengan novelnya, ternyata lebih indah dari desain pakaian asli pengantin Turki.

Melly Goeslow dan Tya Subiyakto
Sebelum mulai membuat lagu theme songnya AAC, Melly G membaca novel dan berkali-kali membaca skenario filmnya., hingga akhirnya menemukan tema utama lagu tersebut, Melly menyebutnya keikhlasan. Setelah feel-nya didapat, setelah 5 hari lagu tersebut diserahkan ke Rossa sebagai penyanyinya. Usai menonton ulang AAC Melly cuma bilang “Bila orang sudah bisa merasakan ikhlas, the best deh. Hidupnya berarti.”

Laen lagi, dengan Tya Subiyakto (Music Composer), sang peracik ilustrasi Musik di film AAC, cukup direpotkan dengan keinginan besar menampilkan kehadiran musik yang bernuansa Islami dan monumental. Lewat bantuan Hanung juga, muncul kolaborasi pemilihan suara kang Emha Ainun Najib, berkumandang di-awal film dan membuat “merinding”, belum lagi suara “ngaji” Uztad Jefri. Tya Subiyakto, berhasil membuat film AAC semakin “hidup dan mendesir hati” apalagi ketika prosesi “Ta’aruf’. Bagi yang nonton pakai VCD/DVD nya, rasanya agak sulit “ndapetin” nuansa rasa ilustrasi musik film ini.

Dan paling penting !!, Jangan dilupakan bahwa novel AAC merupakan kandungan unsur dakwah yang bersumber pada ayat-ayat suci Al Qur’an, dan beberapa-nya tertuang pada novel AAC (baca juga : email Irena di-mailing list), sebagaimana ditulis pada bagian awal (atas) dan akhir artikel ini. Inilah juga salah satu lagi, makna ke-besaran /ke-agungan kitab Al Qur’an.
Selain itu, beberapa kitab-kitab yang mendampingi penulisan novel AAC, dapat juga dimasukkan perburuan buku sebagai Daftar Pencarian Buku (DPB) antara lain :
Makanatul Mar’ah Fil Islam (Posisi Wanita dalam Islam)
Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Quran (Sumber Pengetahuan Ilmu-Ilmu Al Qur’an)
Tuhfatul ‘Aris wal ‘Arus ( Hadiah untuk Pengantin Lelaki dan Pengantin Perempuan)

Terakhir, cubo baco jugo ! : Ketika Cinta Bertasbih

………
“Demikian kami kisahkan kepadamu sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesunggunhnya telah kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan”
(QS. Taaha 99).

(Sumber Artikel : berbagai sumber, Novel & Film AAC, Internet, majalah Nova dan lainnya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: