smantiga86

Lord of SMANTA Alumni

“Gulana Malam”

Posted by smantiga86 pada Maret 4, 2008

(sajian bening hati by Hamdi Buldan)

Temaram senja dipergantian siang malam, ketika hewan-hewan dengan nalurinya bergerak menuju sarang, ketika para nelayan tradisional bersiap mengarungi laut diiringi lambaian lembut para istri nelayan dan tak ketinggalan lambaian jari-jari mungil sang anak dengan sesekali menghela nafas sambil mengusap pangkal hidungnya dengan lengan, dan ketika itu pula orang-orang kota lalu lalang tak karuan menuju pulang atau memang bukan pulang karna ada pertemuan penting plus ‘pesta’ malam di hotel berbintang dan ada pula yang memang baru berpergian menunggu ‘panggilan’.
Ditengah lalu lalang kehidupan, penulis bergumam, semoga seluruh kehidupan ini mengerti jalannya menuju “PULANG”.
Setelah sang mentari (sang sadar) tersembunyi pada sisi perputaran bumi (sang sabar), hadirlah malam, denyut kehidupanpun berubah sesuai dengan isi yang sepadan dengan warnanya, nuansanya dan oramanya.
Gemerlap lampu mewarnai kota, riuh rendah suara berisik dijalan-jalan, gelak tawa canda ria dan suara-suara berbisik dipesta malam, redup lampu digang-gang sempit kota, tak berlampu di bawah kolong jembatan bantaran sungai terdengar tangis bayi dalam pangkuan ibunya.
…..
Jauh jalan yang harus kau tempuh ..!
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
Duduk sini Nak…, dekat pada Bapak
Jangan kau ganggu Ibumu………
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak SENDIRI
………

(Syair Virgiawan Listianto/Iwan Fals)
Ujar sang Bapak sekedar menghangatkan jiwa anak yang dingin belum terisi makan, ditengah negeri yang subur, ditengah negeri yang menggunung makalah seminar jadi kertas kiloan, dinegeri yang mengeksploitasi alam habis-habisan, ditengah negeri yang ceramah dilombakan hua…ha…ha, ditengah negeri yang rajin menyuarakan kebenaran lengkap dengan pakaian kebesaran seolah-olah itulah identitas dari orang beragama, ditengah negeri yang berbaris rapi ’intelektual tukang’ bicara dengan orderan, ditengah negeri yang bagi-bagi jarahan BLBI, ditengah negeri perampok bank berdasi dengan proposal pepesan kosong, ditengah negeri yang hukum menjadi diplomasi,ditengah negeri yang korupsi disegala lini, ditengah negeri yang ajek berpesta demokrasi, ditengah negeri yang seru dengan perbincangan demokrasi tak tentu, kemana dan siapa yang telah membawa kabur (menggelapkan) tujuan demokrasi bagi tegaknya keadilan dan kesejahteraan yang damai dalam kebersamaan. Ditengah negeri yang jumlah parpol
selalu bertambah menjelang pemilu dan seterusnya-seterusnya yang kalo ditulis mungkin kesimpangsiuran dan ketimpangan itu sampai pada kilometer tak tentu.
Sang bapak paruh baya termenung lelah bersandar di bangku stasiun kereta yang sudah sepi seiring larutnya malam, berusah memikirkan apalagi yang harus dilakukan setelah sejak kecil membanting tulang memeras keringat mempertahankan hidup,mulai dari semir sepatu, jual koran, tukang parkir, pemulung , kuli bangunan, tukang pikul barang penumpang kereta yang semakin sepi.
Oh…anakku, kata sang bapak. Akankah engkau juga akan menjalani hidup sebagaimana halnya yang aku jalani…?
Akankah aku dapat membekalimu dengan ilmu yang diajarkan disekolah-sekolah yang konon katanya bisa merubah kehidupan lebih baik dan sejahtera memakmurkan bumi manusia?.
Adakah jalan yang bisa kutempuh ? Dari manapula aku dapat membiayaimu? Dan benarkah dengan sekolah-sekolah itu dapat melapangkan bentangan alam kehidupan yang tercipta keharmonisan antar manusia dan lingkungan dalam bumi manusia ini???.
Sudah tak terhitung lagi banyaknya sarjana, sebuah kata ‘sarjana’ yang juga tidak dimengerti oleh para sarjana itu sendiri he..he..he..he.
Pertanyaan dan pertanyaan yang menggunung dialam fikir sang bapak sepertinya tak terpecahkan dan jalan buntu sajalah sepertinya yang didapat.
Penulis gembel ini gelisah menangkap alam fikiran bapak tadi. Berlari kesana kemari penulis mencari jawaban atas ketimpangan dan kesimpangsiuran jalannya kehidupan negeri ini. Sementara dilayar kaca pengambil keputusan negeri ini simpang siur menentukan berapa angka pasti jumlah hutang konglomerat atas negeri ini dan dia akhiri dengan potongan hutang yang jumlahnya sulit dibayangkan. Ya …sudahlah-sudahlah pemakluman yang tidak maklum…, kebijaksanaan yang tidak bijaksana…, hukum dan politik dagang sapi lalu lalang dalam lintasan ‘kekuasaan’.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun demi tahun, tiap tahun APBN, APBD ditetapkan tak kunjung juga tanda-tanda akan datangnya kemakmuran. Oh…seisi anak negeri apa sesungguhnya yang engkau lakukan lalu lalang gak karu-karuan ??.
Penulis compang camping terus berjalan dan berjalan mencari dan terus mencari dimana engkau hai..sang pemancing luhur avatar kehidupan ? adakah engkau bersembunyi? ataukah aku tak mampu menemukanmu karena terhalang kerak-kerak dihatiku yang telah mengotori jiwa kemanusianku seperti hitamnya air sungai dimana engkau sering duduk memain-mainkan kailmu ?. Ah..ternyata engkau tidak bersembunyi, hanya ‘Aku’lah ke-aku-ankulah yang menyembunyikanmu , hingga engkau tak tertemukan dalam kehidupan ini.
Hua..ha..ha..terbahak-bahak tertawa sendiri dari teman penulis yang hobinya mancing sambil mempermainkan kailnya menertawakan gelisah dan kebodohan lalu lalang kehidupan, hanya kalimat pendek yang dilontarkan sipemancing “ Inilah peradaban AKAL PIKIRAN SUDAH MENJADI SIFAT RUBUBIYAH”. Dengan kata lain “manusia telah men-Tuhan-kan akal fikirannya”. Bah…apa-apa pula ini? Hua..ha..ha tawa keras sipemancing, terdiam dan menangislah penulis. Ingin memahami…’maksud loh…?.
Sayangnya kelenjar air mata penulis kata dokter mata sudah habis hua..ha..ha penulis jadi tertawa.
Sudah..sudahlah..sudahlah dulu Gulana malammu sebentar lagi sang sadar (mentari) menampakkan dirinya menerangi dengan sinarnya sisi perputaran sang sabar (bumi) akan hadirlah fajar dengan kicauan merdu burung-burung dan kokok ayam jantan bersautan, itupun kalau masih ada terdengar dikota-kota negeriku he..he..he, di desa desapun sepertinya kokok ayam sudah tidak lagi ‘kukuruyuk…..k’ seperti yang terdengar kala masih kecilku, sekarang sayup-sayup terdengar kokok berbunyi “kurangaaajar….rr”…. Hua..ha..ha (tertawalah bersambung) akan kukejar terus pengertian dari kata-katamu tadi hai.. SIPEMANCING !!!
Tunggu..tunggulah akan aku uraikan dalam bahasa cinta selagi tersedia ruang dan waktu, kata sang pemancing dengan puitisnya..he..he..he
Penulis Gembel Cengengesan Penasaran
Kutulis 22 Januari 08 Yogyakarta
Waktu antar kau pukul 05.00
Hamdi Buldan

4 Tanggapan to ““Gulana Malam””

  1. Fadil said

    To : Penulis GCP…Kang HB!

    Nang…aku dak pacak lupo dgn lagu “Nak” dari wak Iwan Fals itu, inget nian, lagu itu pas kito SMA, pas bagadang di KM5, pas ngumpul di Dwikora, pas begadang di rumah Niko, apolagi pas begadang di ruang OSIS, pokoknyo pas dang “dak tekeruwan” ha..ha..ha.., sereng nian budak2 kito nyanyike, sampe “lah apal luar kepalak”. Kalu dak pecayo, ado bae, yang nyanyikonyo sambel “neteske banyu mato”, ado bae sambel “buntu akal”, ado bae sambel “nyambungke puntung rokok”. Aii.. aman nak kuceritoke, laju panjang.. Nang ! ha..ha…ha,…

    Buat rekan2 alumni, yang pengen atau rindu nak nengerke lagu “Nak”, lajulah klik be ke “widget-box” posisinyo dikanan bawah blogsite kito. Mendaktuh, download lsg ke link bawah ini:
    http://www.ziddu.com/download.php?uid=Zq2glpSlY6qelOKnYaqhkZSoXqqenZms1

  2. Ridwan said

    Kadang-kadang kita butuh “rasa sunyi”, butuh “rasa sendiri”.
    Tetapi terkadang kita lupa bahwa sesungguhnya kita tidak pernah sendiri. “Sang Sutradara Akbar” dengan kamera-nya mengikuti semua gerak langkah dan nyanyian hati kita setiap detik, setiap getaran atom-atom dan apapun partikel lebih kecil darinya di dalam sel-sel yang membentuk tubuh kita.

    Kita tidak sendiri….tiada kan pernah!

    Seringkali kita terlalu angkuh bahwa “kita tidak berarti apa-apa”. Sesungguhnya banyak orang di sekitar kita menitipkan harapan-harapan besar dan tulus mereka kepada kita. Sekecil apapun sikap kita, bisa jadi menjadi penerang dan ilham bagi makhluk lain. Di sekitar kita…bagi anak-anak kita, istri, teman se RT, teman se-pemancingan, teman se-pengajian.

    Bilalah kita memancing di sebuah danau yang sunyi, kita mungkin menikmati kesunyian itu, tetapi tidak sesungguhnya, kita tidak sesunyi yang kita kira. Sesungguhnya Kita berharap “ikan-ikan” bercengkrama dengan umpan-umpan yang kita kaitkan di mata kail.

    Indah sesungguhnya indah, kasih sayang tulus antar sesama, ber-artikulasi dengan kata, senyum dan rasa hati kepada sesama.

    Mari, berlarilah ke pangkuan Ibu, sebagaimana kita bergayut mesra di pangkuan Bapak, ungkapkan kasih saya kepada mereka. Cium kening mereka, angkat telpon hari ini untuk bicara bahwa kita cinta mereka.

    Seperti anak-anak kita, kita harapkan melakukan serupa kepada kita.

    Senantiasa…cinta kasih dan sun rindu buat Istri di rumah.

    Ridwan
    36+1 hari — sembari mendengarkan “Nak” Iwan Fals.
    Trims Dil atas upload “Nak” dan Thanks Hamdi atas Tulisannya.

  3. buqa said

    dak kusangko wong gilo pacak jd pujangga….tp aq dak ngerti apo dio yg kau tules wak….ha…ha…ha…hua…ha…kir…kir

  4. Tolerable said

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Tolerable.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: