smantiga86

Lord of SMANTA Alumni

Temu Keluarga – Tapos 12/2007

Posted by ridwanaziz pada Januari 4, 2008

kids3.jpg  kids5.jpg  kids2.jpg  kids1.jpg  photo-bapak-bapak.jpg  Alumni Yang Hadir  Panorama  moon1.jpg 

Alhamdulillah, rencana kita untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman seperjuangan ’86 SMAN 3 Palembang telah terlaksana. Semestinya, hanyalah karena izin sang maha Sutradara, penulis skenario besar kita, Rabb yang maha kasih dan maha penyayang.

Yang hadir adalah Hamdi, Sahala dan putri (Icha), Ridwan dan keluarga (Fiana, Arya dan Icha), Yayan Erry dan keluarga (Ryan dan Sofi), Teddy dan keluarga (Ema, Revi dan Ranthi), Heni KC, Melly, Tuti, Dina dan Keluarga (Suami dan anak), Yuli (Yudi — kakak kelas merangkap suami, Diaz, Diar, Dilan), Febry dan putranyo (Echa), Bang En dan dua putranya (Zaid dan ….), Yessi dan Keluarga, Dewi Sarah dan putranya, Dian Bniari dan keluarga (Yusri adik kelas merangkap suami, Dhana, Rafif, dan Sheeren), Amirullah.

Acara dimulai pada tanggal 22 Desember, tiba dilokasi sekitar jam makan siang. Kami berangkat dalam 4 rombongan. Rombongan pertama berangkat bersama-sama sahibul bait Febry pada pagi hari setelah berkumpul di Cibubur. Yang berkesempatan ikut dalam rombongan pertama ini adalah Yayan/Erry dan keluarga, Yuli/Yudi, Dian/Yusri, Tutik.

Sementara rombongan kedua berangkat agak lebih siang, berkenaan dengan koordinasi penjemputan rekan-rekan dari luar kota. Dalam rombongan ini berangkat Hamdi yang sengaja datang dari Jogya dan Dewi Sarah dari Bandung. Rombongan kedua ini tiba sekitar pukul 14.00.

Rombongan ke-3 adalah Heni dan Melly, datang lebih sore dan tiba sekitar hampir Magrib di lokasi. Heni sengaja meluangkan waktu langsung dari Lampung untuk datang ke temu keluarga ini. Melly setia menanti Heni di bandara Hatta-Soekarno. Dengan tekad perjuangan hidup mati, Ibu-ibu ini tiba juga di lokasi setelah mempraktekan jurus “rajin bertanya sampai juga”. Heni dan Melly mengklaim bahwa mereka bertanya kepada lebih dari 127 orang untuk menemukan lokasi.

Amirullah adalah rombongan terakhir yang hadir di ke-esokan hari Minggu-nya, karena rekan kita satu memiliki kewajiban sekolah yang tidak bisa ditinggalkan di hari Sabtu.

Yang tidak berkesempatan hadir adalah beberapa rekan seperti Fadil, Icha, Dayat (sedang berburu dosen pembimbing untuk revisi thesis), dan Fredy AntiQ karena harus ke Bali menemui klien, dan Luthfiah (walaupun sudah di Jakarta namun ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan).

Hal pertama yang merapat ke benak semua kawan-kawan yang berkesempatan hadir adalah rasa syukur diberi  Allah keleluasaan umur, kesehatan karena hari itu kita bisa menyaksikan keluarga kita berkumpul, anak-anak saling menyapa satu-sama lain dengan akrab dan cair. Satu hal yang memang kita semua idamkan bahwa persahabatan kita ini tidak hanya dikenang namun juga dilanjutkan oleh orang-orang sesudah kita (anak-anak kita).

Sepanjang waktu acara, rasonyo nikmat sekali bisa tertawa tanpa butuh ekstaksi. Ini benar-benar terapi tertawa, memang dari dulu kalu uwong Palembang itu bekumpul, mesti begesah, begelut. Mestinyo Tukul Mata Empat itu uwong Palembang…Paling idak besanak dengan kito.

Kalu lagi begesah, pecak maen bola bae…kalo Yayan nendang, Teddy nyundulnyo, di angkat ke tengah lapangan, ridwan tahan pakai dada langsung umpan jauh ke Sahala, kutak-katik sebentar berikan ke Hamdi, umpan tik tak bolak balik Sahala Hamdi, melewati bek lawan, Ada Febry sentuh dengan tumit, Bang En muncul dari belakang, berikan ke Yudi Yasik langsung umpan tarik aahhhhhhhh….lagi-lagi tiang gawang ada dua! Sementara korps ibu-ibu juga tidak kalah cantik berkomentar sana-sini.

Terapi Tertawa! Membuat kita awet muda, menghilangkan kerut-kerut di wajah, melatih otot rahang dan konstraksi perut, secara spiritual memberikan kesempatan untuk bersyukur masih bisa tertawa, bahwa tertawa jauh lebih enak dan bermanfaat dari pada perang politik di Somalia dan Kenya!

Sementara anak-anak sibuk memancing dan memperkenalkan diri satu sama lain. Yang menakjubkan, anak-anak itu bisa langsung akrab. Mestinya, kita harus banyak belajar dari mereka.

Sekitar sore hari, anak-anak melakukan tour keliling lokasi dengan mengendari Club Car. Dengan mengagumkan sekali ternyata Bang En memiliki bakat terpendam untuk memimpin dan mamandu anak-anak. Dengan gaya-nya tersendiri Teddy TP juga ikut-ikutan namun nampaknya bukan memandu tapi menginterogasi dan menginvestigasi. Anak-anak secara umum sangat berbinar perasaannya, juga mendapatkan bingkisan kecil.

Sementara itu, makanan dan minuman tidak hentinya hadir di meja, terima kasih kepada sahibul bait Febry dan Martin yang tanpa mau diekpose telah banyak meluangkan waktu mempersiapkan infrastuktur acara ini. Semoga dibalas dengan rezeki yang berlipat dari Allah Swt.

Pada sesi selepas makan malam, semua yang hadir berkesempatan berkumpul di saung untuk secara bergiliran mengungkapkan kesan dan pesan mereka, juga menceritakan lika-liku perjalanan mereka dari mulai tamat SMA hingga sekarang. Hei…ada juga yang setelah 18 tahun baru bertemu lagi dengan teman-teman, seperti Dewi Sarah, Dina dan Yessi!

Acara dilanjutkan dengan makam malam di saung, full team kecuali Amir. Yessy juga telah tiba langsung dari Purbalingga.

Topik diskusi dalam sesi selepas makan malam ini (saya kira mulai sekitar 8.30)  sangat beragam, sang moderator ditunjuklah Bang En yang dengan piawai memainkan peran serius tapi lucunya. Secara sengaja memang para peserta sepakat bulat, kotak dan lonjong untuk menempatkan Hamdi sebagai peserta yang mendapatkan kesempatan berbicara paling akhir, mulanya agar pidato Hamdi yang berapi-api itu bisa dipersingkat, tapi kenyataannya justeru karena Hamdi berbicara paling akhir maka beliau berkesempatan untuk menyimpulkan isi diskusi dan ini panjangnya lebih dari sekedar pidato berapi-api…sementara energi yang dibutuhkan untuk tetap menjaga mata terbuka sudah sangat minim…!

Diskusi diawali oleh Sahala yang didaulat untuk berbicara sedikit banyak tentang reksadana syariah, memang profesi rekan kito satu ini semakin mantap di bidang perbankan syariah. Tanya jawab terjadi dengan cepat, Yudi dan Yuli  sangat berminat nampaknya dengan reksadana syariah ini.

Pada giliran berikutnya Dian Bniari,  bersama-sama dengan Erry (ibu-ibu dokter, mereka berdua ini ahli jarum tajam – akupunktur) memaparkan tentang konsep kecantikan wanita. Kata kunci adalah “SUNBLOCK”. Nampaknya Teddy sangat tertarik karena kulitnya yang hitam itu memang sangat menyerap energi matahari…ibarat solar cell.

Yuli, rekan kita yang dokter di instansi pemerintah di Cimahi ini, mengungkapkan tentang seluk beluk penanganan pertama untuk korban kecelakaan. Kata kunci adalah “PERNAFASAN BUATAN”. Dan juga otokritik, kalau kita melihat korban kecelakaan di jalan, jangan cuma nonton tapi bantu dengan penanganan pertama. Dengan melakukan beberapa tindakan yang bisa dipelajari kita mungkin bisa menyelamatkan jiwa seseorang (bila Allah menghendaki tentunya). Para hadirin sangat tertarik dengan presentasi ini mengingat yang jadi model untuk korban kecelakaan adalah Melly….saat-saat peragaan pernafasan buatan sangat dinanti-nanti, sayangnya para hadirin hanya diperbolehkan melihat peragaan (touchless) oleh Yuli dan tidak boleh mencoba sendiri…

Yuli juga pesan, agar kita menjaga keluarga kita dari bahaya HIV AIDS. Yuli bilang seringkali yang banyak terjadi, penyebaran virus satu ini bukan hanya oleh jarum tajam Narkoba, tapi justeru oleh “jarum tumpul”. Waspadalah, perkuat iman.

Melly mengulas tentang mode rambut di 2008, karena memang profesi beliau adalah ahli tata rambut. Kalau mau “nyalon” di tangerang, bisalah menghubungi Melly. Terima klien tua muda hingga bayi.

Heni bercerita tentang pekerjaan dia sehari-hari, beliau tinggal di Lippo Cikarang dan sekarang sedang melanjutkan sekolah di Depok sembari tetap bekerja. Heni ini menjadi salah seorang karyawan kunci di sebuah perusahaan Korea (mestinya Korea Selatan bukan Korea Utara!).

Dina mengulas tentang profesi dia di ketentaraan dan cerita panjang sejarah dirinya semenjak lulus SMA. Sang pelari kita ini memang sangat sesuai dibidangnya dan menjadi kebanggaan kita bersama. Ingat cerita Forest Gump ? Mirip deh dengan cerita Dina. Beliau sekarang tinggal di Bandar Lampung.

Yessi, putri dari Ibu Arifah, guru kesenian kita di SMA 3 ini, benar-benar mengagumkan. Rela menempuh perjalanan dari Purbalingga untuk berkumpul dengan teman-teman di acara ini. Yessi kerja di BRI Purbalingga. Masih ingat Ibu Arifah…mirip deh degan Yessi. Yessi, salam kenal dari Sahala.

Dewi Sarah menceritakan kisahnya yang sekarang menetap kembali di Cimahi, bertetanggaan dengan Yuli. Jadi kalu kita ke Cimahi kita bisa sarapan di rumah Yuli dan makan siang di rumah Dewi Sarah.

Tutik, yang ternyata memiliki nama panggilan “Tutut”, mengulas banyak tentang perjalanan karirnya mulai dari bekerja di Batam hingga saat ini. Tutik, Bikcek kita satu ini sangat terkesan dengan lagu Ari Lasso, yang berkisah tentang tambatah hati. Sukses selalu Bik Cek.

Pada gilirannya Febry, mengulas tentang seluk beluk bisnis kerakyatan tentang bagaimana menyentuh masyarakat dengan proses produksi yang menghasilkan income bagi mereka mulai dari usaha bakso hingga kerupuk. Banyak kiat-kiat yang diberikan Febry, kata kunci adalah “Risk Taking”. Febri akhirnya juga mengakui bahwa dia satu guru satu ilmu dengan Hamdi.

Febry juga kembali mengangkat ide agar kita bisa membentuk suatu kelompok usaha bisnis antara alumni, mulailah dari yang kecil-kecil dahulu seperti jualan tahu dll sehingga bisa membukan lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitar kita. Ide ini sebenarnya terus bergulir semenjak acara reuni tahun lalu di Palembang. Nampaknya memang harus segera diwujudkan.

Nah, berikutnya Yayan yang mengulas tentang pekerjaannya yang melenceng dari jurusan waktu kuliah. Namun, konsistensi dan ketekunan memang faktor yang sangat menentukan.

Sebelumnya Ridwan juga mengulas tentang aspek lain dari kehidupan kita yaitu semangat untuk “membuat sesuatu dengan tangan sendiri”. Bagaimana lemahnya bangsa kita ini dalam industri manufaktur yang notabene adalah hampir 100% import.

Teddy, pura-pura tidur sehingga dia bisa membebaskan diri dari kesempatan berbicara. Hmm…taktik lama.

Dan…puncaknya adalah wejangan dari Hamdi…hmm yang ini sebenarnya padat dengan hikmah. Tentang bagaimana kiat kita menghadapi tantangan hidup. Juga tentang bagaimana kita bersyukur dan mendoakan orang-orang yang telah berjasa kepada kita. Ditutup dengan doa bersama…dan wow…waktu telah menunjukkan pukul 00.30 WIB!

Wacacam, hampir 4 jam lebih kita berdiskusi dengan penuh canda riang, mati kelemakan ketawo! Sampai termimpi mimpi.

Ternyata pada saat yang hampir bersamaan banyak rekan kita juga sedang berkumpul di Palembang tepatnya di rumah Mang Fadil seperti Eko, Jally dan lain-lain.  Sebenarnya, rasa gumpalan persahabatan itu bersemayam di hati kita masing-masing, lepas dari lokasi lintang dan bujur kita berada.

Keesokan harinya, anak-anak mengalami hari yang begitu mengesankan dengan diadakannya perlombaan-perlombaan. Hadiah memang disediakan, namun behavioural experience yang kita coba angkat adalah menang atau kalah nomor lima, yang penting “jujur”. Saya kira teman-teman yang hadir sepakat tentang hal ini.

Selepas makan siang di hari Minggu, kita berdiskusi kembali tentang rencana temu keluarga di Juni 2008, dimana secara umum disepakati akan diadakan di Jogya. Hamdi di daulat menjadi pimpinan panitia, yang selanjutnya akan memberikan informasi lebih lanjut mengenai kisaran biaya-biaya terkait.

Amirullah datang di pagi hari Minggu, menambah keceriaan. Jadilah kita mendengarkan banyak cerita dari Amir, tentang kesuksesan-kesuksesan beliau.

Banyak sekali perasaan haru terlintas di hati sewaktu kami berpamitan satu-sama-lain di halaman parkir. Rasanya enggan untuk berpisah dan kembali menapaki rutinitas sehari-hari yang kadang menjemukan dan penuh tekanan.

Tak lupa, mengucapkan terima kasih kepada Febry atas keleluasaan beliau menyediakan fasilitas berlangsungnya temu keluarga ini. Hampir pasti, ketulusan persahabatan ini menjadi contoh penting bagi anak-anak kita kelak.

Di bagian akhir, sudilah kiranya saya mengutip pesan bijak dari seorang rekan kita berinisial H (lima huruf) : “bahwa kita dibuat bijak bukan oleh kepingan-kepingan kenangan masa lalu, namun karena tanggungjawab kita di masa depan….!

Wass.

Pendekar Buluh Perindu  (http://pekikceria.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: