smantiga86

Lord of SMANTA Alumni

DIMANA ENGKAU HAI KELUHURAN ?

Posted by smantiga86 pada Januari 3, 2008

(Ditulis oleh Sdr. Ir. H. Hamdi Buldan MT, 04 Januari 2008)

Sepanjang rentang sejarah peradaban manusia, mendambakan keluhuran dalam kehidupan laksana mencari air jernih dipadang pasir kering, gersang dan tandus. Mungkin dalam komunitas masyarakat prasejarah tidak mengenal kata dan arti kata itu, tapi mungkin justru dalam keseharian masyarakat prasejarahlah hidup keluhuran dan keserasian bersama alam, sialnya penulis tidak memiliki keterangan sedikitpun akan hal itu. Kita tentunya menyimak bahasan dari berbagai kisah-kisah perjalanan peradaban masyarakat sejarah masa lalu yang bersumber dari keterangan wahyu yang jelas orisinilitasnya dan dari karya-karya ahli sejarah dalam gelombang pasang surutnya peradaban yang sudah dapat dijelaskan sebagai keterangan-keterangan yang sampai pada kita saat ini. Kegemaran penulis sendiri yang selalu berjalan sambil ikut merasakan, memperhatikan dan mencoba memaknai kejadian-kejadian dramatis peradaban saat ini dalam berbagai sisi kehidupan, baik sisi “kemajuan” peradaban maupun sisi suram peradaban umat manusia saat ini yang konon katanya masyarakat serba maju, modern, yang mana dalam hal ini perkembangan saint dan teknologi serba canggih.

Seiiring dengan pesatnya “kemajuan” itu tadi ada hal yang justru sangat esensial dalam kehidupan umat manusia, malah berbanding terbalik dengan kemajuan itu sendiri. Hal apakah yang penulis maksud sangat esensial itu ?. Itulah “Kemanusiaan” “keadilan”, “kesejahteraan”. Kuantitas maupun kualitas ketiga hal itu justru saat ini semakin merosot drastis bahkan hampir-hampir menuju ditelan bumi. Hampir setiap hari kita kenyang dengan suguhan kejahatan-kejahatan kemanusiaan dalam berbagai bentuk dan pola, kita dikenyangkan dengan suguhan kesewenang-wenangan yang kuat (kuasa) terhadap yang lemah, kita kenyang dengan suguhan-suguhan kemiskinan, pembodohan-pembodohan yang sistematis terukur dan terencana. Konon katanya berpendidikan itu dapat membangun peradaban manusia menjadi lebih baik dan menjadi pemecah masalah dalam kenyataannya malah menjadi masalah ???.

Bukankah manusia diberi seperangkat akal, indera dan asma-asma (nama-nama/pengetahuan) lengkap pula dengan aturan dan tuntunannya dalam setiap periode keumatan, bahkan telah sempurna pulalah tuntunan itu sampai akhir zaman untuk bekal memakmurkan penduduk muka bumi (manusia dan lingkungannya). Yang telah ditundukkan-Nya bumi langit dan segala isinya bagi umat manusia. Dengan itu semua hendaklah manusia mensyukuri (berbuat bagi kemakmuran bumi manusia) dan hanya mengabdikan diri kepada Yang Maha Kuasa. Bergegas dan berbuatlah bersama untuk kehidupan duniamu, sedang kamu sendiri (manusia) untuk Tuhanmu. Lantas teman penulis yang hobinya mancing bertanya sembari duduk diatas batu di tepi sungai yang sudah menghitam airnya, “mengapa seperangkat anugerah yang telah tersedia dengan instrumen alam sebagai media bumi manusia ternyata peradaban manusia semakin jauh dari dambaan hidup bagi semua manusia?. Teman penulis ini mejawab sendiri, apakah ini yang dinamakan kehidupan peradaban modern yang telah mengenal agama dan beragama tetapi tidak lagi BERUHANI?. Ketika beragama tidak lagi beruhani, maka agama hanyalah status, agama formalitas dan aksesoris, agama sebatas gerak ritual tanpa makna, agama sebagai jargon kekuasaan semu sempit belaka, agama menjadi alat kepentingan, agama sebagai pamrih, agama kosong tak bermakna, agama mengental membatu kering menjadi ke’Aku’ an, hilanglah sudah ikhlas dalam segala dimensinya yang utuh. Perjalanan kehidupan peradaban yang telah kehilangan keikhlasannya menjadikan dahaga tak berkesudahan dalam beradaban itu sendiri sehingga matilah sudah kemanusiaan, hilanglah rasa keadilan dan terampaslah kesejahteraan. Jika itu sudah berlaku, maka alampun tidak mau lagi bersahabat sesuai dengan SunnatullahNya “ hilanglah ikhlas dalam segala dimensinya” disanalah KELUHURAN terabaikan, tertutup tak tertemukan. Teman penulis tadi yang hobinya mancing terlihat turun dari tempat duduknya sambil sesekali menghela nafas panjang dan terus berjalan mencari air jernih keikhlasan dengan sungguh dan sabar. Carilah hai… saudaraku dimana mata air keluhuran, disanalah air ikhlas keabadian. Aliran dari mata air keluhuran itulah mengalir air keikhlasan yang menjadi energi tak berkesudahan untuk membangun kemanusiaan yang adil dan sejahtera di bumi manusia, tunduk dan sujud dihadapan keAgungan Tuhan Yang Maha Esa.

Haruslah kita sadari, kehidupan kita sesungguhnya membuat sejarah bagi masa depan peradaban. Sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga (keindahan, kemakmuran, kedamaian) tanpa ikhlas dihatinya. Sesungguhnya manusia takkan bisa menyentuh nikmatNya tanpa tulus dihatinya.

Setelah berjalan dan terus berjalan, teman penulis tadi tertawa dalam kesendiriannya dan berkata : “Siapakah yang “gila” dalam hidup ini ??? Hua..ha..ha (Tertawa bersambung…….)

2 Januari 2008, Jogyakarta

00.15 waktu tak tentu

Hamdi Buldan

Satu Tanggapan to “DIMANA ENGKAU HAI KELUHURAN ?”

  1. ridwanaziz said

    Akhlak yang karimah, itu yang harus dibangun. Setiap denyut nafas kita, setiap getaran elektron dan partikel-partikel lebih kecil lainnya dalam sel kita, harus kita niatkan untuk Allah SWT.

    Ikhlas adalah akibat. Keluhuran adalah hasil dari niat kita.

    Perlu determinasi yang kuat, karena godaan juga selalu ada dalam setiap denyut nafas kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: