smantiga86

Lord of SMANTA Alumni

“GORESAN TAPOS” AKHIR TAHUN 2007

Posted by smantiga86 pada Januari 2, 2008

(Tulisan ini dikutip dr komentar saudara-ku “Hamdi Buldan” menurut kami, komentar tsb lebih Ok sebagai tulisan)

  tapos2.jpg 

Goresan Tapos Akhir Tahun 2007, itulah sembarang nama yang penulis jadikan judul coretan ini. Judul sembarang ini lahir dari kesan pertemuan tgl 22 -23 Des’ 2007 di Tapos 2.  Ada kesan dan pesan dihati penulis yang begitu dalam ketika sampai dirumah (Jogja) tgl. 24 Des’ 2007 jam 20.00. pertemuan yang mengalir begitu saja sepertinya sembarang pula ternyata kita semua menemukan ke alamian persaudaraan yang senyawa dengan denyut lingkungan alam ciptaan Allah SWT., tempat di mana kita seyogyanya dapat meresapi keindahan alam dengan sungai jernih mengalir di dalamnya begitu damai, tenang dalam canda tawa renyah, polos tanpa basa basi, tanpa embel-embel walau banyak kata atau canda ember bocor belepotan berserakan di setiap obrolan. Tetapi kita semua jelas melihat dan merasakan ketulusan hati kitalah yang mengukir gambar-gambar pertemuan itu menjadi “BEGITU INDAH” (kata syair lagu Padi).
Kunci rahasia yang penulis temukan dalam gambar keindahan itu tidak bisa di pisahkan dari ketulusan hati keluarga besar tuan rumah (Keluarga Bapak / Ibu Suwarna AF) Febri, Martin bersaudara dan seluruh karyawan Resort. Terima kasih kami semua semoga Allah SWT. Selalu melipatgandakan keberkahan dalam seluruh gerak langkah Keluarga Besar yang kita cintai ini. Mohon maaf kami semua telah merepotkan jika banyak gambar urukan seenanknya, gelegak tawa sesuka hati yang di anggap oleh keluarga tuan rumah dan keluarga teman-teman yang hadir. Sekali lagi penulis mohon maaf karena itu semua ulah dari penulis sendiri yang jadi BIANG KEROKnya. Hua…ha…ha…
Hai…. Tedi yang kecebur kolam, untung “pelet”mu tidak di makan ikan.
Yayan…. jangan lupa sms saya ya….!! he…he…he… (Yang lain dak boleh tau…)
Sahala ParluHUTAN yang tinggal di KOTA, bakatmu masa lalu (Cuma penulis dan Febri yang tau) teruskanlah dgn gaya baru yang diam menghanyutkan itu akan menambah akselerasi karirmu yang profesional, tapi kalo kepeleset jidat kau benjol, kasih aja remason sendiri. Hua…ha…ha…
Ridwan…, memang Tedi kau tu walau cengengesan tapi batinnyo tuo (Tulus dan bijak kadang-kadang. He…he…he…) Ini ngomong serius ‘Wan.
Ridwan… teknokrat sosialis religius berkomitmen, kau tu kalau memang ti dak merokok ya Alhamdulillah, tapi kalau suka rokok ya…. merokok baelah ’Wan!
Marvin aku bangga sekarang kau sudah mulai lucu. He…he…he… dengan lucumu itu tapi tetap Marvin yang dulu, aku yakin kau akan semakain sukses dengan karirmu….. Amin…!
Amir… saudaraku yang tidak banyak kelakar, seorang pemikir, pekerja keras, tekun, profesional sekaligus diam-diam pintar nyabet daun muda. He..he..he..
Juragan Febri… lu sekarang nampak makin piawai berkaliber semakin menghanyutkan. Ha..ha..ha.. gue tau lu, lu tau gue.he..he..he..
Hai semua ibu-ibu (gak usah di panggil satu-satu ya….) kalian semua yang penulis cintai dan sayangi, saat-saat ini adalah usia di mana dalam masa paling menentukan dalam pembentukan kesuksesan masa depan keluarga, untuk itu ikatlah keluarga dengan doa yang tulus ikhlas buka dengan remote control, jadi semua akan lebih enjoy, lebih produktif, positif. Hal itu akan membuat bapa-bapak jadi lebih progresif ereksioner. Ha..ha..ha.. itu jawaban mencapai mati kelemak’an. Hua..ha..ha..
Terakhir pesan buat ibu ibu, kalau bapak bapak sedang dilanda perkara badai salah baca kompas dalam berlayar atau karena cak icak pacak maen api, maka dalam situasi itu diharapkan ibu ibu jangan panik dan bereaksi, harus tetap tenang, sabar, berdoa. Nanti nahkodanya pasti bisa menemukan jalan pulang merapat ke dermaga. Kalau ibu ibu panik teriak teriak, ngoceh, mencak2, itu bisa bikin nahkoda panik dan kapal terancam tenggelam, akhirnya barang barang bawaan yang sudah ada akan kocar kacir berantakan di mana mana.
Pengen saran lebih lanjut atau ada pertanyaan…??? hubungi 0811283803, rahasia anda di jamin penulis… huahahahahaha
Nah… seumpama para bapak ndablek, sudahlah…. gampang itu!! Silakkan datang ke penulis biar semua ibu ibu penulis yang urusi huahahah. (dalam hati bapak bapak kurang ajar nian penulis gembel ini, cak betatuan nian.. huahahaha)
Saudara saudaraku semua yang penulis banggakan di komunitas ini, betapa Maha Sempurnanya Allah SWT menciptakkan berbagai macam orang “gila” bisa kumpul, akur, merasakan dirinya bagian satu dengan yang lainnya, kemudian muncul dalam benak kesadarannya berfikir bagaimana mengejawantahkan dirinya agar dapat merasakan manusia yang utuh bukan budak “Aku”-nya, bukan budak “benda atau materi”, bukan pula budak “emosi”, apalagi budak “kuasa”. Karena mereka mereka yang duduk ngobrol sekenanya di Tapos waktu itu ternyata tahu persis bahwa hanya Allah SWT yang Maha Tinggi derajatnya sehingga mereka orang orang tawadhu’. Subhanallah…..
Penulis melihat dan belajar dari mereka2 yang duduk2 itu ternyata juga orang2 yang progresif ereksioner. Huahahah….
Mereka progresif dalam mengikhtiari kehidupan dunia tapi sekaligus mereka tahu dunia ini bukanlah apa2, karena mereka itu tahu persis dunia ini tidak lebih dari satu butir pasir di tengah padang pasir maha luas tak bertepi (Imam Al-Ghozali). Bumi hanyalah satu titik planet dalam galaksi Andromeda seperti kabut tak berhingga jumlah planetnya, padahal galaksi andromeda itu sendiri hanya merupakan salah satu gugusan planet dalam jagat raya alam semesta yang tak bertepi. Subhanallah…. Maha Kaya Engkau Ya… Allah… Karena itu mereka tidak sombong dengan dunia yang mereka ikhtiari, lantas kenapa pula mereka harus selalu tetap menjaga stamina untuk mengikhtiari dunia? Ternyata mereka mendambakan kemaslahatan atau membawa manfaat bagi peradaban manusia dan alam lingkungannya dengan kemampuan dan profesi mereka masing2. Subhanallah.. Mereka jadi orang2 yang ikhlas mengeluarkan zakat, infak, sodhakoh, dan suka meringankan beban orang lain. Ya… Allah.. teguhkan semangat mereka itu semua saudaraku, berkahilah mereka, mudahkanlah jalannya, berilah mereka panjang umur, usia yang bermanfaat, jadikan anak keturunan mereka orang yang akhli ilmu yang bermanfaat, akhli kesalehan, kesalehan sosial panjang umur berakhlakul karimah. Amin….!!! Amin…..!!! ya Allah….
Tidak lepas dari amatan penulis dari mereka2 itu saudaraku yang penulis cintai, ada yang belum menemukan jodohnya. Ya…. Allah… mudahkanlah jodoh mereka2 itu. Berikanlah mereka jodoh yang membawa mereka kebahagiaan hidup dunia dan akherat. Amin.. amin.. amin..!!
Pada saat yang sama ketika mereka berkumpul di Tapos, di palembang orang2 “gila” lainnya berkumpul di rumah Fadil. Mereka2 itu sodara2 penulis yang penulis lihat tidak jauh berbeda “gila”nya, sama karakter dan tabiatnya dan membanggakan hati penulis atas rasa kesetia kawanan persaudaraan dan kemanusiaannya.
Penulis akhiri coretan ini, terima kasih kalian semua yang di Palembang, Jakarta, Bandung, dan yang berserakan tersebar dari Aceh-Papua. Kalian saudaraku sekaligus guru2 ku, jadi kalau penulis kalian bilang budak gilo, karena kalian semua guru2 ku maka sesungguhnya siapakah yang paling gilo?? Huahahahahahahah………

Coretan Pagi 25 Desember 2007
04.30, waktu Jogja

(Hamdi Buldan)

3 Tanggapan to ““GORESAN TAPOS” AKHIR TAHUN 2007”

  1. Fadil said

    mang Hamdi.. uji kawan2, yang kakang tuleske ni, ndak lagi “goresan” pecaknye tuh “lah dalam” !, paleng idak makan 10 jaitan. ha…ha….ha…

    sun jugo Nang !

  2. hamdibuldan said

    DIMANA ENGKAU HAI KELUHURAN ?

    Sepanjang rentang sejarah peradaban manusia, mendambakan keluhuran dalam kehidupan laksana mencari air jernih dipadang pasir kering, gersang dan tandus. Mungkin dalam komunitas masyarakat prasejarah tidak mengenal kata dan arti kata itu, tapi mungkin justru dalam keseharian masyarakat prasejarahlah hidup keluhuran dan keserasian bersama alam, sialnya penulis tidak memiliki keterangan sedikitpun akan hal itu. Kita tentunya menyimak bahasan dari berbagai kisah-kisah perjalanan peradaban masyarakat sejarah masa lalu yang bersumber dari keterangan wahyu yang jelas orisinilitasnya dan dari karya-karya ahli sejarah dalam gelombang pasang surutnya peradaban yang sudah dapat dijelaskan sebagai keterangan-keterangan yang sampai pada kita saat ini. Kegemaran penulis sendiri yang selalu berjalan sambil ikut merasakan, memperhatikan dan mencoba memaknai kejadian-kejadian dramatis peradaban saat ini dalam berbagai sisi kehidupan, baik sisi “kemajuan” peradaban maupun sisi suram peradaban umat manusia saat ini yang konon katanya masyarakat serba maju, modern, yang mana dalam hal ini perkembangan saint dan teknologi serba canggih.

    Seiiring dengan pesatnya “kemajuan” itu tadi ada hal yang justru sangat esensial dalam kehidupan umat manusia, malah berbanding terbalik dengan kemajuan itu sendiri. Hal apakah yang penulis maksud sangat esensial itu ?. Itulah “Kemanusiaan” “keadilan”, “kesejahteraan”. Kuantitas maupun kualitas ketiga hal itu justru saat ini semakin merosot drastis bahkan hampir-hampir menuju ditelan bumi. Hampir setiap hari kita kenyang dengan suguhan kejahatan-kejahatan kemanusiaan dalam berbagai bentuk dan pola, kita dikenyangkan dengan suguhan kesewenang-wenangan yang kuat (kuasa) terhadap yang lemah, kita kenyang dengan suguhan-suguhan kemiskinan, pembodohan-pembodohan yang sistematis terukur dan terencana. Konon katanya berpendidikan itu dapat membangun peradaban manusia menjadi lebih baik dan menjadi pemecah masalah dalam kenyataannya malah menjadi masalah ???.

    Bukankah manusia diberi seperangkat akal, indera dan asma-asma (nama-nama/pengetahuan) lengkap pula dengan aturan dan tuntunannya dalam setiap periode keumatan, bahkan telah sempurna pulalah tuntunan itu sampai akhir zaman untuk bekal memakmurkan penduduk muka bumi (manusia dan lingkungannya). Yang telah ditundukkan-Nya bumi langit dan segala isinya bagi umat manusia. Dengan itu semua hendaklah manusia mensyukuri (berbuat bagi kemakmuran bumi manusia) dan hanya mengabdikan diri kepada Yang Maha Kuasa. Bergegas dan berbuatlah bersama untuk kehidupan duniamu, sedang kamu sendiri (manusia) untuk Tuhanmu. Lantas teman penulis yang hobinya mancing bertanya sembari duduk diatas batu di tepi sungai yang sudah menghitam airnya, “mengapa seperangkat anugerah yang telah tersedia dengan instrumen alam sebagai media bumi manusia ternyata peradaban manusia semakin jauh dari dambaan hidup bagi semua manusia?. Teman penulis ini mejawab sendiri, apakah ini yang dinamakan kehidupan peradaban modern yang telah mengenal agama dan beragama tetapi tidak lagi BERUHANI?. Ketika beragama tidak lagi beruhani, maka agama hanyalah status, agama formalitas dan aksesoris, agama sebatas gerak ritual tanpa makna, agama sebagai jargon kekuasaan semu sempit belaka, agama menjadi alat kepentingan, agama sebagai pamrih, agama kosong tak bermakna, agama mengental membatu kering menjadi ke’Aku’ an, hilanglah sudah ikhlas dalam segala dimensinya yang utuh. Perjalanan kehidupan peradaban yang telah kehilangan keikhlasannya menjadikan dahaga tak berkesudahan dalam beradaban itu sendiri sehingga matilah sudah kemanusiaan, hilanglah rasa keadilan dan terampaslah kesejahteraan. Jika itu sudah berlaku, maka alampun tidak mau lagi bersahabat sesuai dengan SunnatullahNya “ hilanglah ikhlas dalam segala dimensinya” disanalah KELUHURAN terabaikan, tertutup tak tertemukan. Teman penulis tadi yang hobinya mancing terlihat turun dari tempat duduknya sambil sesekali menghela nafas panjang dan terus berjalan mencari air jernih keikhlasan dengan sungguh dan sabar. Carilah hai… saudaraku dimana mata air keluhuran, disanalah air ikhlas keabadian. Aliran dari mata air keluhuran itulah mengalir air keikhlasan yang menjadi energi tak berkesudahan untuk membangun kemanusiaan yang adil dan sejahtera di bumi manusia, tunduk dan sujud dihadapan keAgungan Tuhan Yang Maha Esa.

    Haruslah kita sadari, kehidupan kita sesungguhnya membuat sejarah bagi masa depan peradaban. Sesungguhnya manusia takkan bisa menikmati surga (keindahan, kemakmuran, kedamaian) tanpa ikhlas dihatinya. Sesungguhnya manusia takkan bisa menyentuh nikmatNya tanpa tulus dihatinya.

    Setelah berjalan dan terus berjalan, teman penulis tadi tertawa dalam kesendiriannya dan berkata : “Siapakah yang “gila” dalam hidup ini ??? Hua..ha..ha (Tertawa bersambung…….)

    2 Januari 2008, Jogyakarta

    00.15 waktu tak tentu

    Hamdi Buldan

  3. Mardies said

    Panjang buanget. Tapi saya baca kok.🙂

    Salam kenal!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: