smantiga86

Lord of SMANTA Alumni

Review Resto : Putra Sriwijaya (By. Erry DP)

Posted by smantiga86 pada September 20, 2007

Sebagai anak rantau asal Palembang yang berdomisili di Jakarta, layaknya orang rantauan lainnya sudah pasti ada saat-saat dimana kita terkenang akan nikmatnya penganan asli daerah asal. Perasaan itu juga yang akhir-akhir ini menghinggapi saya, sehingga saya mulai mencari-cari referensi mengenai rumah makan asli Palembang yang ada di Jakarta.
Hasil investigasi saya membuahkan hasil. Beberapa referensi saya dapatkan. Diantaranya saya pernah mengunjungi rumah makan masakan Palembang di daerah Jakarta Selatan, bahkan juga ke Jakarta Utara yang notabene jauh dari tempat tinggal saya di Jakarta Selatan.
Tetapi tanpa disangka, suatu hari sepulang dari Pasar Pramuka, saya bersama suami melewati jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Mata kami tanpa sengaja menatap sebuah spanduk didepan sebuah bangunan bertuliskan RM Putra Sriwijaya, menyediakan bermacam-macam makanan khas Palembang. Makanan yang disediakan sangat beragam, mulai makanan ringan seperti pempek, celimpungan, burgo, laksa, kue srikayo (kue ini tidak ada hubungan sama sekali dengan buah srikaya), model dan tekwan, sampai hidangan-hidangan berat lauk untuk makan nasi, seperti: pindang (ada ikan patin, lais, baung, dll), brengkes (pepes ikan) baik yang dicampur dengan tempoyak (asinan yang dibuat dari buah durian) ataupun yang polos (tanpa tempoyak), ikan asap, goreng ikan seluang (sejenis ikan sungai yang kecil-kecil sehingga kalau digoreng akan jadi garing). Bagi yang tidak suka ikan disediakan lauk lain seperti ayam. Untuk minumannya disediakan juga bermacam-macam es dan salah satunya adalah minuman yang sudah lama tidak kami jumpai, yaitu es kacang merah yang gurih dan legit.
Karena kami ingin menikmati hidangan yang benar-benar khas Palembang, akhirnya kami memesan 1 porsi pindang ikan baung, 1 porsi brengkes ikan patin dengan tempoyak, 1 porsi ikan seluang goreng, 1 porsi ikan asap, lalapan dan sambal mangga (sambal yang dicampur dengan irisan buah mangga muda, sambal khas Palembang). Untuk minumannya kami memesan es kacang merah dan air mineral.
Selagi pesanan kami disiapkan, waitress muncul dengan membawa makanan yang tidak perlu dipesan terlebih dahulu, yaitu sepiring pempek (sekitar 10 buah, kita hanya bayar yang kita makan saja) dan sepiring kue srikayo (sekitar 5 buah kue). Makanan pembuka itu disediakan bersama dengan es kacang merah pesanan kami. Kami lalu mulai makan pempek, ternyata enak sekali. Es kacang merahnyapun sangat legit. Demikian juga kue srikayo yang berwarna hijau, manis dan legit. Kami sedikit kawatir kalau-kalau kami akan terlanjur kenyang sebelum makanan utama tersedia.
Tak lama kemudian pesanan kamipun tiba. Untunglah kami hanya memesan masing-masing jenis makanan hanya 1 porsi. Ternyata porsinya lebih dari cukup untuk ukuran perut kami, porsinya memang besar. Pindangnya terasa segar dengan bumbu-bumbu yang proporsional, demikian juga brengkesnya. Sangat lezat. Ikan seluang gorengnya garing dan sedap, sambal mangganya betul-betul menggugah selera. Tidak ada bedanya dengan yang pernah kami temukan di Palembang. Selagi kami makan, Manajer rumah makan sesekali menemani kami ngobrol tentunya dengan bahasa ’kerajaan’ kami. Para pejabat yang berasal dari Palembang atau paling tidak pernah bertugas di Palembang seperti Taufik Kiemas dan KSAD sering makan ataupun pesan disini kata Manajernya berpromosi. Yang membuat kami makin surprised, ternyata bahan-bahan utama masakan didatangkan langsung dari Palembang, dikirim melalui jalan darat dengan mobil yang dilengkapi coldstorage, dengan semangatnya si Manajer menunjukkan kami ikan patin mentah yang baru datang dari Palembang, dan menjelaskan kepada kami bedanya dengan ikan patin yang dijual di Jakarta, dimana ikan patin dari Palembang merupakan hasil tangkapan sungai, bukan hasil budidaya. Ciri-ciri utamanya adalah pada bagian sirip warnanya agak kemerah-merahan dan tidak berbau lumpur. Ukuranpun lebih besar dan berlemak. Demikian juga ikan lais, ikan baung dan ikan seluang juga didatangkan dari Palembang. Memang, selama kami di Jakarta hampir tidak pernah melihat ada ikan lais, ikan baung dan ikan seluang yang dijual baik dipasar maupun super market. Ada lagi lalap-lalapan yang tidak ditemukan di Jakarta, seperti terung bulat dan kabau (sejenis lalapan berbau seperti pete/jengkol yang bentuknya seperti obat tablet berwarna hitam).
Tanpa terasa hidangan yang kami pesan ludes. Yang ada tinggal sedikit rasa penyesalan karena diet yang gagal. Tapi tidak apa, toh kesempatan ini tidak selalu bisa dinikmati. Makan di ibukota serasa makan di daerah asal. Kami pun membayar harga makanan yang kami pesan. Harga makanan per porsi masih cukup masuk akal, antara 10 ribu sampai 17 ribu per porsi. Hari ini kerinduan terhadap kampung halaman sedikit terobati, dan yang terpenting bila kerinduan akan makanan kampung halaman timbul kembali, paling tidak kami sudah tau harus pergi kemana.(edp)

Satu Tanggapan to “Review Resto : Putra Sriwijaya (By. Erry DP)”

  1. from and saw bellowed rich flavor. as a sapling my misguided his a young or burnt, removing I remember attempt. I grew

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: