“Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (Az Zuhruf ayat 67).
….. satu ayat cinta dari sekian juta ayat-ayat cinta yang diwahyukan Allah kepada manusia…..
Akhirnya, satu keunikan “Ayat-Ayat Cinta (AAC)” adalah begitu fenomenal dan mampu begitu hidup di berbagai unsur masyarakat. Awalnya, AAC adalah novel sastra yang berhasil (best seller) meramu dakwah, tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa, dimana dengan segala suka dukanya diangkat juga ke layar lebar. [Acung Jempol..], Di peredarannya, berbagai kalangan masyarakat universal, secara serentak diberikan “laksana hidayah” untuk membaca novel AAC sekaligus menonton dan membicarakan film dari novel Habiburarrahman El Shirazy tersebut. . Menariknya lagi, AAC mampu menembus lintas sektoral usia, golongan dan berbagai komunitas rakyat, Bahkan beberapa tokoh seperti Hidayat Nur Wahid, Bj Habibie, dan AM Fatwa, Kalla dan terakhir Presiden RI SBY, menggelar nonton bareng Ayat-Ayat Cinta, sampai akhirnya Presiden RI ini pun “miris”, menitikkan air mata terbawa perasaan dan …Indonesia pun Menangis !!. Kejadian di Palembang, akibat “besempelan gino” orang berdesakan mau nonton AAC, akhirnya kaca tebal Studio Cineplex 21 pun “jebol”, hingga terpaksa ada yg harus dibawah ke RS. Dan saat itu… Palembang pun Menangis !!..
Terlepas dari adanya “kesan kelemahan” & “kesan berlebihan” di film maupun di novel AAC maka pada “klik” kali ini, dengan tidak mengenyampingkan tokoh2 utama AAC yang sudah melesat (menculat) terkenal, seperti : Habiburrahman El Shirazy (kang Abik sang Maestro Penulis), Hanung Bramantyo (sang Sutradara), Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Puteri dan pemain lainnya, kesuksesan AAC sebetulnya tidak terlepas dari “kerja spektakuler” dari (antara lain) beberapa orang ini.
Anif Sirsaeba Alafsana
Lelaki yang disapa sebagai kang Anif inilah yang begitu mengkuratori novel AAC, dari mulai “memperindah” novel hingga berjuang bersama Republika menerbitkan novel tersebut. Anif pun bertindak sebagai “aranjer” dan negoisiator ketika muncul penawaran dari beberapa Production House (PH) untuk mengangkat novel AAC ke layar lebar. Anif pun sadar dan maklum sebagai suatu konsekuensi novel yang diangkat ke layar lebar, tidak akan memuaskan, persis sama, ataupun sedikit membuat kecewa para pembaca novel yang juga menonton filmnya. Kang Abik dan Anif pun membebaskan Hanung dan tim-nya berkreasi, sejauh itu masih dapat ditolerir. Dan luar-biasa, film AAC tersebut laris dan tentunya ini tidak terlepas “faktor” novel yang dilabeli megabest seller, karya Kang Abik tersebut. Baca entri selengkapnya »